Tampilkan postingan dengan label bola Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bola Indonesia. Tampilkan semua postingan

2013-02-22

Alasan La Nyalla cs. Datangi PSSI


Satu dari empat anggota Komite Eksekutif (Komek), La Nyalla M. Mattalitti menyatakan bahwa kedatangannya ke PSSI pada Jumat (22/2), bukan tanpa sebab. Selain untuk memenuhi perintah FIFA, kedatangan itu sekaligus juga untuk mendorong terjadinya pembicaraan dalam rangka mempersiapkan Kongres 17 Maret 2013.

"Jadi, kedatangan kami untuk mempersiapkan Kongres. Kami juga hadir untuk meluruskan yang selama ini belok-belok," kata La Nyalla di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta.

La Nyalla menambahkan bahwa dirinya bersama tiga anggota Komek lainnya, Tony Aprilani, Roberto Rouw, dan Erwin Dwi Budiawan, telah mengkomunikasi keinginannya kepada Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin. Ia berharap petinggi PSSI itu segera mengagendakan menggelar rapat Komek secepatnya.

"Yang jelas kami meminta agar rapat segera dilakukan secepatnya mengingat Kongres tak lama lagi," jelas Djohar.

Sementara itu, dalam kesempatannya, Djohar mengaku belum dapat memastikan kapan rapat Komek digelar. Namun, sambung Djohar, rapat itu kemungkinan juga akan membahas perihal Badan Tim Nasional.

"Kami terakhir bertemu dengan teman-teman Komek membahas masalah nama. Pembahasan ini ada tak lepas dengan pembagian kerja. Kalau Komite kan lebih luas cangkupan kerjanya daripada BTN."

"Kalau menyoal ketua Isran Noor, semua sudah sepakat. Tinggal kepengurusan di bawahnya. Di rapat Komek selanjutnya, akan kami bicarakan kembali," jelas Djohar.

Selain itu, Djohar tak menampik agenda rapat Komek juga bisa membahas perihal usulan La Nyalla cs., yang menginginkan agar Halim Mahfudz dipecat dari jabatannya sebagai Sekjen PSSI.

"Itu kan prosedurnya lewat rapat Komek. Saya tidak bisa memutuskan sepihak. Jadi harus dibawa ke rapat Komek," ujar Djohar.

Empat Komek Minta Djohar Pecat Halim Mahfudz

Empat anggota Komite Eksekutif (Komek) yang sebelumnya diberhentikan PSSI, meminta agar Halim Mahfudz dipecat dari jabatannya sebagai Sekjen PSSI. Menurut satu dari empat anggota Komek, La Nyalla, Halim kerap membuat keputusan, yang sering membuat proses rekonsiliasi tidak berjalan.

"Ini juga menjadi usulan kami dari kelompok KPSI. Yang jelas, Halim harus diganti. Ia sering mengubah di kesekjenan," kata La Nyalla dalam jumpa pers, yang juga diikuti Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Jumat (22/2).

La Nyalla juga menyebut bahwa keharusan untuk memecat Halim disebabkan karena tindakannya yang terkadang melampaui wewenang Djohar. Dalam beberapa kesempatan, Halim dinilai lebih vokal sehingga membuat kisruh lebih panas.

"Ia sudah melampaui wewenang Ketum. Sebelumnya, ia juga melaporkan Djohar (karena bentuk BTN). Karena menzolimi, kami siap membantu Djohar terlebih untuk sepak bola Indonesia," terang La Nyalla.

"Ini unek-unek kami. Karena kami diperintahkan FIFA dan pemerintah untuk kembali, kami mengusulkan agar Halim diganti. Kalau tidak diganti, kami menilai akan sulit memajukan sepak bola Indonesia. Selama Halim di sini, kami juga menilai sulit kongres terlaksana karena akan tetap ribut di proses verifikasi,," sambung La Nyalla.

Djohar Sambut Kedatangan La Nyalla cs. ke PSSI


Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, menyambut positif kedatangan empat anggota Komite Eksekutif: La Nyalla Mattalitti, Tony Aprilani, Roberto Rouw, dan Erwin Dwi Budiawan, Jumat (22/2). Menurutnya, kehadiran empat Komek itu bisa memperkuat PSSI kembali.

"Saya tidak menyangka dengan kedatangan empat Komek ini. Kedatangan mereka tentu atas perintah FIFA. Saya berterimakasih atas semangat empat Komek kembali untuk aktif membangun sepak bola Indonesia. Jujur, saya kaget juga," kata Djohar dalam jumpa pers di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Jumat (22/2).

Empat Komek yang sebelumnya dipecat PSSI, telah menyambangi PSSI. Kedatangan mereka ini menyusul surat FIFA tertanggal 13 Februari 2013, yang kemudian dibahas Menpora, Roy Suryo dalam pertemuan dengan PSSI dan KPSI, Senin (22/2).

Dalam suratnya, FIFA sendiri meminta agar poin mengenai pengembalian empat Komek bisa jalankan. Hal ini karena poin tersebut juga akan menjadi tolak ukur FIFA dalam menentukan nasib Indonesia.

Selain pengembalian empat Komek, dalam suratnya, FIFA juga meminta agar tiga poin lain dilaksanakan. Ketiga poin itu adalah unifikasi liga, revisi statuta, dan penyelenggaraan kongres dengan peserta Kongres Solo, Juli 2011.

"Program ke depan banyak sekali. Yang paling utama adalah menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan FIFA. Mudah-mudahan tidak ada masalah, karena kami juga sudah menandatangani kesepakatan di Kemenpora. Mudah2an timnas juga bisa kembali kuat kalau pemain bersatu," sambung Djohar.

Menpora Dukung Kembalinya La Nyalla cs. ke PSSI


Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora), Roy Suryo mengaku senang dengan langkah La Nyalla M. Mattalitti cs. kembali ke PSSI. Bagi suksesor Andi Mallarangeng, langkah itu bisa mempermudah proses penyelesaian empat poin seperti yang tertera dalam MoU 7 Juni 2012 dan surat FIFA tertanggal 18 Desember 2012 dan 13 Februari 2013.

"Ya, tidak apa-apa. Itu kan termasuk pemenuhan 1 dari 4 syarat FIFA," kata Roy Suryo, Jumat (22/2).

Poin yang dimaksud Roy Suryo sendiri adalah soal pengembalian empat anggota Komite Eksekutif (Komek): La Nyalla, Tony Aprilani, Erwin Dwi Budiawan, dan Roberto Rouw. Poin ini sebelumnya diminta FIFA untuk dilaksanakan selain tiga poin lain yaitu unifikasi liga, revisi statuta, dan kongres.

Roy Suryo menambahkan bahwa pihaknya akan terus mendorong pemenuhan empat poin penyelesaian masalah. Itu menurutnya bisa dilakukan karena FIFA sudah memberi dukungan kepada pemerintah untuk membantu dan mendorong terjadinya penyelesaian kekisruhan.

"Surat Sepp Blatter tertanggal 20 Februari jelas mendudukan posisi dan memercayakan pemerintah untuk ikut membantu kesuksesan Kongres 17 Maret. Dengan kata lain FIFA sepakat dengan upaya pemerintah untuk memfasilitasi penyelesaian ini," jelas Roy.


2013-02-21

Pemain Tunggu Janji Manajemen Soal Uang Saku


Carut-marut pengelolaan timnas Indonesia, nyata benar-benar memberi dampak yang tidak mengenakan bagi pemain dan jajaran pelatih timnas Indonesia. Belum lepas dari ingatan bagaimana timnas harus memiliki persiapan minim jelang laga uji coba melawan Yordania, kisah lain muncul kepermukaan, seakan kian mempertebal ketidakbecusan manajemen dalam mengatur timnas.
 
Terbaru, para pemain yang sebelumnya tampil di laga uji coba melawan Yordania dan partai pertama babak Kualifikasi Piala Asia 2015, dilaporkan belum mendapat uang saku. Hal ini juga diketahui dari salah satu pemain, Rasyid Bakrie.

"Iya benar. Uang harian kami belum dibayar selama ke luar negeri saat pertandingan melawan Irak," kata gelandang PSM Makassar, yang sebelumnya memperkuat timnas U-23 itu, Kamis (21/2).

Berdasarkan informasi yang diterima, para pemain sebelumnya dijanjikan mendapat uang saku sebesar 1 juta rupiah perhari. Jika ditotal, satu pemain seharusnya mendapat uang saku sebesar 7 juta rupiah.

Menurut Rasyid, para pemain sebelumnya sudah menagih janji manajemen sekaligus meminta haknya. "Katanya masih diproses. Saya sih hanya menunggu. Mudah-mudahan cepat selesai karena itu hak pemain," jelas Rasyid.

Tak hanya pemain, ketidakbecusan manajemen timnas sebelumnyajuga  membuat asisten pelatih timnas, Fabio Oliviera harus rela tidak mendapat gajinya selama lima bulan.

Bob Hippy Ingin BTN Koordinasi Dengan Komek


Badan Tim Nasional yang digadang-gadang akan mengurus timnas terus mendapat tentangan dari pihak Komite Eksekutif (Komek) PSSI. Meski demikian, salah satu Komite Eksekutif PSSI, Bob Hippy sebenarnya mendukung keberadaan BTN apabila ada pembicaraan sebelumnya.

Salah satu anggota Komite Eksekutif (Komek), Bob Hippy menyayangkan tidak adanya pembicaraan sebelumnya mengenai pembentukan BTN. Bob mengatakan tidak masalah bila timnas nantinya diurus oleh BTN, namun masalah penunjukkan ketua, dan pemilihan para anggota BTN seharusnya dibicarakan dengan para Komek.

"Kami sebenarnya sangat mengerti niatan baik atas terbentuknya BTN. Sebenarnya, selama tujuannya untuk kepentingan bangsa dan negara, kami pasti mendukung," ujar Bob Hippy ketika dihubungi wartawan.

Sejauh ini Isran Noor sudah ditunjuk menjadi ketua BTN, Surat Keputusan penunjukkan Isran Noor sendiri keluar tanggal 11 Januari 2013 dan telah disahkan oleh Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin. namun penegesahan tersebut dilakukan tanpa adanya koordinasi dengan pihak Komek.

"Sebenarnya mau ada 100 orang Isran Noor atau lebih juga kami bisa terima, tapi setidaknya harus dibicarakan dulu dengan jelas apa alasan dia dipercaya untuk menjabat sebagai Ketua BTN. Kami berharap ada pembicaraan lebih lanjut perihal penunjukan ketua badan timnas itu," tutur Bob Hippy.

Selain mengangkat Isran Noor menjadi ketua, BTN juga sudah menunjuk Luis Manuel Blanco sebagai pelatih kepala dan telah memanggil 34 pemain untuk mengikuti pelatnas di Jakarta.

Persipura Siapkan Mental Untuk Derby Papua


Persipura telah melakukan persiapan untuk menghadapi Persidafon dalam laga derby di lanjutan Indonesia Super League (ISL) 2012/13 di Stadion Barnabas Youwe, Sentani, Jumat (22/2). Tim berjuluk Mutiara Hitam tersebut menargetkan dapat mencuri poin di kandang lawan.

"Persiapan terakhir sudah kami lakukan. Sekarang tinggal istirahat untuk pertandingan besok," papar Jacksen F. Tiago, pelatih Persipura, saat dihubungi Bolanews, Kamis (21/2).

Jacksen juga telah menyiapkan mental pemainnya. Bagi Jacksen, partai derby tidak hanya ditentukan oleh teknik semata, mental tim juga sangat diperlukan untuk memenangkan pertandingan.

"Derby selalu sulit. Bukan teknik saja yang menentukan, tetapi mental juga berperan penting," lanjut mantan pemain Persebaya tersebut.

Jelang menghadapi Persiram, Ian Luis Kabes telah dapat diturunkan, hal itu pastinya dapat mengangkat kembali mental pemain karena akan tampil dengan komposisi terbaik. Namun, yang patut disayangkan, Yustinus Pae tidak dapat diturunkan.

"Kesiapan tim bagus. Yustinus Pae tidak dapat diturunkan. Ian Luis Kabes melawan Persiram tidak main, menghadapi Persidafon ia akan tampil," ujar Jacksen.

Pelatih asal Brasil itu menargetkan dapat mencuri poin dari tim besutan Ernest Pahelerang tersebut. "Terget kami selalu dapat poin dalam setiap pertandingan," kata Jacksen.

Steven Goff Puji Penampilan Syamsir Alam

Syamsir Alam telah mencatatkan debut bersama DC United ketika menghadapi Philadelphia Union, Kamis (21/2) WIB atau Rabu (20/2) waktu setempat. Dalam laga tersebut Alam memberikan kontribusi positif untuk hasil 1-1 yang didapat DC United.

Syamsir Alam masuk menit ke-63, ketika DC United berhadapan dengan Philadelphia Union dalam  lanjutan Walt Disney Pre Season Tournament.

Di menit ke-68 gelandang berusia 20 tahun itu memberikan kontribusi ketika dia melakukan tusukan ke dalam kotak penalti Philadelphia Union. Pergerakan Alam di kotak penalti harus dilanggar pemain belakang Philadelphia yang membuahkan penalti untuk DC United. Kyle Porter yang mengeksekusi penalti berhasil merobek gawang Philadelphia Union sekaligus menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Penampilan Alam tersebut mendapat pujian dari salah satu wartawan Washington Post, Steven Goff yang meliput pertandingan tersebut. Lewat akun twitternya Goff mengatakan penampilan Alam patut untuk dihargai.

"Saya tidak berharap banyak, tapi penampilan gelandang Indonesia, Syamsir Alam di pertandingan 1-1 dengan Philadelphia patut dihormati," tutur Steven Goff lewat akun twitternya @SoccerInsider.

Syamsir Alam bergabung di DC United dengan status pemain pinjaman dari CS Vise, namun Alam bisa saja menjadi pemain tetap di DC United bila penampilannya bisa mengesankan pelatih DC United, Ben Olsen.

Suap? Tanyalah Mereka



Masih ingat nama Nobon? Pemain asal Medan yang rajin menjelajah lapangan itu sejak tahun 1981 absen dari percaturan tim nasional. Kini dalam usia hampir 35 tahun, Nobon ternyata belum bisa memisahkan sepakbola dari bagian kehidupannya.

Sibuk mengurus keluarga dengan tiga anak, ditambah kewajiban sebagai pegawai kantor pajak di Medan ternyata bukan hambatan. Diam-diam Nobon terus melibatkan diri dalam olahraga paling populer di tanah air itu. Ia membina pemain-pemain muda Perisai, klub milik instansi tempatnya bekerja, anggota divisi utama PSMS.

Bukan hanya membina, malah. Dua tahun ia juga masih main, dan Perisai meraih tangga juara. Tapi tahun-tahun berikutnya, prestasi Perisai menghujam turun. Padahal di klub ini banyak tercetak pemain-pemain nasional, seperti kiper Taufik Lubis, Yuswardi, Tumsila, Parlin Siagian, dan Wibisono. Kenapa?

"Kami melalaikan pembinaan," jawab Nobon mengenal sebabnya. "Dan kini, untuk meraih kembali gelar terpandang itu, seperti anda lihat, kami terus sibuk berlatih," tambahnya ketika mengawasi pemainnya berlatih di lapangan Brigif 7 Sampali Medan pekan lalu.

Mengenal sepakbola tahun 1960 di tempat tinggal orangtuanya di kawasan Kampung Dadap Medan, Nobon berpendapat, pembinaan pemain harus dimulai sejak dasar. Artinya, dimulai dari bocah dengan latihan berkesinambungan. "Saat awal itu pula, pembinaan mental dan disiplin ditegakkan. Ini berkaitan dengan usaha-usaha kita yang sedang gencar memberantas suap," ujarnya.

Nobon yang mengagumi kepemimpinan PSSI di bawah Bardosono dan Ali Sadikin, menunjuk uraiannya itu sebagai jalan terbaik jika ingin mentuntaskan masalah suap sepakbola. Jalan yang ditempuh PSSI sekarang katanya hanya akan bisa meredakan sementara.

"Anda boleh juga tanya pendapat Sutjipto Suntoro, Iswadi Idris, Ronny Patty, Ronny Paslah, dan Zulham Effendy," jawabnya mengenai pemberantasan kanker sepakbola di negeri ini. "Ya... tanya sajalah pada mereka," tambahnya seperti berteka-teki, ketika diusut mengenai makna sarannya.

Bagi Nobon sendiri, sepakbola memang merupakan jenjang ke tangga masa depan. Kini, setelah bertahun-tahun berbasuh keringat di lapangan hijau, kondisi sosial ekonominya kian mantap saja. Selain punya rumah permanen dan sebuah sedan Daihatsu Charade, Nobon juga bergaji lumayan. Dana pensiun pun sudah menunggu.

Pengagum Bobby Charlton dan Parlin Siagian ini bertekad terus membina sepakbola. "Bahkan jika tenaga masih mengizinkan, di masa pensiun pun saya ingin tetap berada di tengah-tengah pemain," janjinya.

(Penulis: Syamin Pardede, Tabloid BOLA edisi no. 10, Jumat 4 Mei 1984)

Persib Siap Lepas Pemain ke Timnas


Badan Tim Nasional (BTN) yang masih belum jelas statusnya di PSSI telah mengumumkan 34 nama pemain untuk mengikuti seleksi tim nasional Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat 12 nama pemain yang berkancah di Indonesia Super League (ISL).

Dua diantaranya adalah punggawa Persib Bandung, yaitu Tony Sucipto dan M.Ridwan. Arsitek Persib, Djajang Nurjaman mengaku belum mengetahui perihal tersebut. Namun bila itu benar adanya, Djajang bersedia melepas pemainnya untuk bergabung ke timnas asalkan sudah tidak ada lagi dualisme dalam pengelolaan timnas.

"Saya justru belum tahu, namun kalau sudah resmi dan memang sudah bersatu, pemain akan kami lepas ke timnas," papar Djajang Nurjaman kepada Bolanews.

Mantan pelatih Pelita Jaya tersebut mengakui bahwa tenaga Tony dan M. Ridwan sangat dibutuhkan tim. Akan tetapi demi alasan negara, Djajang bersedia merelakan kedua pemain tersebut membela Indonesia untuk kualifikasi Piala Asia 2015 melawan Arab.

"Pasti akan mengganggu keseimbangan tim, mereka berdua pemain andalan kami. Ini semua demi Indonesia," terang pelatih kelahiran 30 Oktober 1964 tersebut.

2013-02-20

Ditahan Malaysia 0-0, Indonesia Juara


Indonesia merengkuh gelar juara di turnamen miliki Asosiasi Sepak Bola Hong Kong (HKFA). Hong Kong Jockey Club (HKJC) International Youth Invitation Tournament 2013 U-18. Kepastian ini diperoleh setelah anak asuh menahan imbang Malaysia di partai pamungkas turnamen yang juga diikuti tuan rumah Hong Kong dan Singapura itu di Po Kong Village Road Park, Rabu (20/2).

Hasil imbang itu sendiri membuat Indonesia mengantungi poin lima. Indonesia unggul jumlah gol memasukan dari Malaysia, yang juga memiliki poin sama. Sebelumnya, Malaysia mencatatkan hasil serupa dengan Indonesia, yakni memetik satu hasil seri dan satu kemenangan.

Bagi Indonesia, pencapaian ini sekaligus mengulang kesuksesan timnas U-17, yang meraih gelar juara di turnamen HKFA International Youth Invitation Tournament 2013 U-17, yang berlangsung pada Januari 2012. Di turnamen tersebut, timnas U-17 meraih gelar juara setelah mengalahkan Hong Kong (1-0), Makau (4-1), Singapura (3-1).

Sementara itu, dipertandingan lain Singapura bermain imbang 2-2 melawan Hong Kong. Hasil seri 2-2 ini membuat Singapura menempati posisi ketiga. Young Lions unggul gol memasukkan dari Hong Kong, yang harus puas menempati posisi keempat.

Babak Baru Konflik PSSI


JAKARTA - Penyelesaian konflik di tubuh persepakbolaan Indonesia memasuki babak baru. Hal itu terjadi, setelah adanya nota kesepahamaan (MoU) antara Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo, PSSI, dan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI).

Setelah menggelar pertemuan tertutup di kantor Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jakarta, Senin (18/2), nota kesepahaman akhirnya ditanda tangani oleh Menpora, ketua umum (ketum) PSSI Djohar Arifin Husin, dan perwakilan KPSI La Nyalla M Mattalitti, dan ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo.

Dan yang utama dari adanya penandatangan nota kesepahaman tersebut, semua pihak berjanji untuk mensukseskan rencana digelarnya Kongres Biasa pada 17 Maret mendatang. Dimana di dalam kongres tersebut, akan menuntun jalan yang dipilih untuk memperbaiki semua permasalahan di persepakbolaan Indonesia ke depan.

Adanya kesepakatan tersebut, berbagai tanggapan pun berdatangan. Terbaru, Sekertaris Jendral (Sekjen) PSSI Halim Mahfudz menyatakan, jika PSSI akan meminta langsung pendapat AFC. Halma, sapaan akrab Halim, menjelaskan, jika langkah yang telah diambil Menpora, PSSI, dan KPSI berbeda dengan apa yang dimandatkan AFC.

“Langkah tersebut sama sekali berbeda dengan apa yang disampaikan AFC kepada kami. Proses penyelesaian konflik sepakbola Indonesia sudah sepenuhnya diserahkan kepada AFC. Jadi saya harus berkoordinasi dulu dengan AFC soal adanya surat FIFA yang diterima Menpora,” ungkap Halim saat dihubungi wartawan.

Halim menilai, jika PSSI telah menjalani empat poin yang terkandung dalam surat yang diterima Menpora 13 Februari lalu. Unifikasi liga, kembalinya empat Komite Eksekutif (Exco) PSSI (La Nyalla M Mattalitti, Toni Apriliani, Iwan Budiawan, dan Roberto Rouw tanpa syarat), revisi statuta, dan digelarnya kongres sesuai voters Solo adalah keempat poin yang dimaksud.

Tapi seperti diketahui bersama jika PSSI telah membatalkan MoU antara PSSI dan KPSI di Malaysia beberapa waktu lalu, dalam kongres Palangkaraya 10 Desember 2012. Kala itu, dalam kongres kedua yang digelar PSSI pemilik suara yang dipakai tetap pemilik suara dalam kongres perdana PSSI yang juga digelar di Palangkaraya 18 Maret 2012.

“Kami sudah memenuhi empat poin yang dimaksud FIFA dalam surat tersebut. Jadi mana mungkin kami mengulang kembali sesuatu yang sebenarnya sudah kami penuhi sebelumnya,” jelas Halim.

“Hari ini (kemarin), saya akan berangkat ke Kuala Lumpur (Malaysia) guna melakukan koordinasi langsung dengan AFC. Karena dalam rapat eksekutif komite FIFA di Tokyo, Jepang, FIFA telah menyerahkan proses penyelesaian konflik sepakbola Indonesia sepenuhnya kepada AFC,” sambungnya.

La Nyalla sendiri mengaku sangat senang adanya langkah baru yang diambil Menpora. Soal anggota voters Solo yang selama ini jadi perdebatan, dirinya mempersilahkan Menpora meminta langsung kepada AFC, karena siapa-siapa anggota dari voters Solo, asosiasi tertinggi sepakbola Asia tersebut pasti memiliki data yang valid.

“Kalau sampai tidak terlaksana kongres Indonesia akan di suspend. Suka tidak suka, mau tidak mau Indonesia di suspend. Maka dari itu, kita harus menerima ini. Dan saya sudah siap dari dulu. Alhamdulilah pak Djohar harus mengerti. Kalau sampai ada yang one prestasi disini, ya masyarakat Indonesia yang menilai,"  tegas La Nyalla.

Sementara itu, mantan ketum PSSI Agum Gumelar juga angkat bicara soal adanya langkah baru terkait konflik PSSI. Mantan ketua Komite Normalisasi pun mengaku sempat berbicara kepada Djohar mengenai perkembangan konflik yang ada. Untuk itu Agum berharap, agar tidak lagi ada kubu di sepakbola Indonesia.

“Sekarang sudah disepakati bersama, jika tidak ada lagi interprestasi terhadap surat FIFA. Tafsirnya tunggal. Yaitu harus  menggelar kongres biasa pada 17 Maret mendatang dengan menggunakan voters Solo,” jelas Agum.